Selasa, 19 April 2022

3.3.a.10. Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

3.3.a.10. Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

  1. Peristiwa (Fact) Deskripsi singkat aksi nyata

  1. Latar Belakang

Pembentukan karakter murid sebagai generasi penerus sangatlah penting, karena murid sebagai generasi penerus yang akan menjadi tolak ukur keberhasilan mutu pendidikan dan pembangunan bangsa. Murid sebagai generasi muda penerus bangsa diharapkan dapat memiliki sikap baik maupun tingkah lakunya. Generasi penerus tidak hanya cerdas secara intelektual namun juga harus cerdas secara moral.

Untuk memperoleh hal-hal tersebut di atas, upaya yang dapat dilakukan sekolah adalah melalui pembinaan, pembiasaan, penanaman nilai karakter melalui kegiatan atau program pembiasaan di sekolah. Harapan yang dapat melalui kegiatan program adalah berkembangnya potensi murid agar memiliki nilai profil pelajar pancasila yang menjadi bekal di masa depan. 


  1. Alasan

Permasalahan yang dihadapi siswa SMPN 1 Peureulak adalah masih perlunya pembekalan  nilai-nilai religius agar dapat membentuk sebuah karakter yang kuat. Realita Karakter religius murid SMPN 1 Peureulak di masa sekarang ini menurun, hal tersebut terlihat dari sikap para murid dalam proses pembelajaran, pergaulan dengan teman, dan bersikap kepada guru.   Bentuk usaha yang dapat dilakukan adalah penanaman karakter religius, percaya diri dan kepedulian siswa melalui wadah program Jumat religi yang berisi kegiatan Yasin bersama, kultum dari siswa, dan infaq Jumat. 


  1. Hasil Aksi Nyata

Program Jumat  Religi yang dilaksanakan di SMPN 1 Peureulak ini adalah kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat Pagi sebelum mengawali pembelajaran di mana murid dan para guru melaksanakan pembacaan Yasin secara bersama yang bertujuan untuk menciptakan suasana religius di lingkungan sekolah, memperdalam bacaan Alquran murid, membatasi murid u tuk berperilaku tidak baik. Setelah pembacaan Yasin bersama kemudian dilanjutkan dengan kegiatan kultum oleh perwakilan murid yang mendapat giliran kelas perminggu untuk menampilkan performa diri. Kultum dari siswa ini diharapkan dapat diharapkan menjadi pengingat murid dalam berbuat kebaikan, mensyiarkan ajaran kebaikan, menambah wawasan yang berguna, bermanfaat dan baroqah. Akhir kegiatan pelaksanaan Jumat religi adalah pengutipan infaq Jumat yang bertujuan untuk melatih siswa adalah bersedekah dan rasa kepedulian. Adapun hasil yang didapatkan dari infaq Jumat adalah untuk kegiatan keislaman di sekolah dan juga menyantuni siswa yatim. 

Berkat  program kegiatan Jumat Religi di SMPN 1 Peureulak hasil yang didapatkan adalah  adalah terciptanya lingkungan sekolah yang bernuansa religius, terbentuknya karakter dan pembiasaan berperilaku baik pada murid serta menambah pengalaman pengalaman beragama. Semoga pengalaman beragama ini nantinya mengakar dan dapat serta mampu memperbaiki karakter dan kepribadian yang baik bagi murid sebagai generasi penerus bangsa. 




  1. Perasaan (Feeling)

Kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi kita kalangan guru ketika mendapatkan hasil yang baik dari sebuah program yang diupayakan dalam pembentukan karakter siswa. Semua ini didapatkan berat kerjasama dari seluruh ekosistem sekolah baik kepala sekolah, rekan guru, dukungan wali murid sehingga tercapai hasil sesuai yang diharapkan.


  1. Pembelajaran (Finding)

Pembelajaran yang didapatkan dari kegiatan aksi nyata “pengelolaan Program Yang Berdampak Pada Peserta Didik” adalah terwujudnya kepemimpinan murid dan terbentuknya karakter religius serta terbetuknya karakter profil pelajar Pancasila pada murid. 

Untuk dapat menjalankan setiap program yang diinginkan sebagai upaya perbaikan ke arah yang lebih baik dibutuhkan kerjasama dan keterlibatan semua pihak di sekolah. Sebagai seorang guru selain berperan penting dalam pembelajaran di kelas, guru juga harus peduli dan berperan dalam program yang berdampak pada murid. 

  1. Penerapan ke Depan (Future)

Rencana perbaikan ke depan adalah selalu mengevaluasi jalannya proses kegiatan program setiap sebulan sekali untuk mengukur ketercapaian hasil melalui observasi, wawancara kepada murid. Selain itu sangat perlunya kolaborasi sesama guru agar proses kegiatan program berjalan lebih baik dan sesuai dengan hasil yang diharapkan. 


Selasa, 15 Maret 2022

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

Evi Rahman Silalahi, S.Pd 

CGP 3 Aceh Timur

Pemimpin  adalah orang yang bertanggung jawab mengemban tugas  untuk memimpin dan  bisa mempengaruhi serta merangkul orang yang dipimpinnya untuk mencapai suatu tujuan yang telah disepakati sesuai kesepakatan bersama, Idealnya seorang pemimpin mempunyai kekuasaan yang dilimpahkan kepadanya. Kekuasaan tersebut merupakan alat dalam menjalankan peran dan tugas kepemimpinannya. Karena kekuasaan dapat berpengaruh menjadi kekuatan energi pendorong seorang pemimpin untuk mempengaruhi, menggerakkan, dan mengubah perilaku orang yang dipimpin  untuk meningkatkan kinerja serta pencapaian tujuan organisasi tersebut. Oleh karena itu, agar tugas kepemimpinan dapat berjalan dengan baik maka digunakan tindakan atau strategi. Tindakan atau strategi yang digunakan bergantung kepada seberapa tinggi pengetahuan dan keterampilan seorang  pimpinan dalam membuat dan mengembangkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dua dimensi kepemimpinan yaitu: pertama, dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan dalam tindakan atau aktivitas pemimpin. Kedua, dimensi yang berhubungan dengan peranan  orang yang dipimpin dalam melaksanakan peran dan tugas.

Pada modul 3.2 materi yang dipelajari yaitu Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya. Pembahasan modul lebih menekankan pada satu pendekatan yaitu yang dikenal sebagai Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset Based Thinking). Pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset menekankan kepada upaya kemandirian dari suatu komunitas dalam menyelesaikan tantangan yang dihadapi dengan bermodal kekuatan dan potensi yang ada dalam diri. Pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset berpusat  pada sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang mengarah pada masa depan bukan mengarah pada masalah/isu.

Berbekal pemahaman dan pengetahuan  yang telah  saya peroleh melalui materi modul 3.2 ini, akhirnya saya mampu melihat kekuatan atau potensi diri yang selama ini saya miliki.  Kekuatan atau potensi tersebut merupakan aset dan modal bagi diri saya sebagai seorang pendidik atau pemimpin dalam mengelola sumber daya yang ada di lingkungan sekitar seperti sumber daya yang ada di kelas, sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, langkah pertama yang akan saya lakukan dalam proses pembelajaran di kelas adalah memanfaatkan potensi dan kekuatan yang dimiliki oleh setiap murid. Saya harus meyakini bahwa setiap murid memiliki potensi yang ada pada setiap diri mereka. Potensi yang dimiliki oleh setiap  murid tentunya berbeda-beda (berdiferensiasi). Keberagaman potensi yang dimiliki murid ini merupakan salah satu aset bagi saya dalam mengelola sumber daya sehingga mampu menciptakan karya menurut minat, bakat, dan kreativitas mereka masing-masing. Murid dapat berinovasi mengembangkan kreativitasnya dengan menerapkan ide-ide yang mereka miliki. Ruang kelas juga dapat diupayakan dan dimanfaatkan sebagai sarana belajar yang nyaman dan menyenangkan bagi murid.

Pelaksanaan selanjutnya yaitu untuk sekolah, memberdayakan potensi/aset yang dimiliki oleh sekolah yaitu potensi yang dimiliki oleh kepala sekolah, guru, tenaga staf, murid, orang tua dan masyarakat sekitar sekolah.  Hal tersebut akan mendukung keberhasilan untuk mensukseskan program-program yang dibuat oleh sekolah. Pelibatan   seluruh komponen sekolah untuk turut mendukung dan bekerja sama agar mampu mengembangkan dan memajukan sekolah. Mengajak  semua komponen sekolah merancang suatu program dalam pengembangan kreativitas baik murid mapun gurunya. Mengajak  semua komponen sekolah untuk terlibat dalam realisasi potensi yang mereka miliki. Penerapan   bagi lingkungan masyarakat sekitar adalah dalam bentuk komunikasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Menjalin  hubungan dan komunikasi sosial dengan baik kepada seluruh warga sekitar sekolah. Membina  hubungan kerjasama lewat komite sekolah yang memiliki latar belakang yang beragam.

Rangkaian materi yang tercakup di dalam modul 3.2 ini merupakan keterkaitan dari keseluruhan rangkaian materi yang ada dalam modul sebelumnya yaitu modul 1 dan modul 2. Pemikiran dan filosofi tentang pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah  sebuah peristiwa yang bermakna bagi pemikiran pendidikan di Indonesia. Sesuai perannya, guru adalah  pemimpin pembelajaran yang menuntun murid agar mencapai kebahagiaannya sesuai dengan kodratnya. Guru sebagai seorang pemimpin dalam pembelajaran seyogyanya mampu melihat kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh setiap murid. Karena hal ini merupakan bagian komponen biotik  atau komponen hidup dalam komunitas sekolah yang dapat dijadikan sebagai aset/modal dalam perancangan dan penyelenggaraan program sekolah sebagai salah satu kekuatan atau modal untuk membangun dan mengembangkan mutu pendidikan.

Seorang pemimpin dalam pelaksanaan pembelajaran membutuhkan strategi dan tindakan yang tepat. Salah satu strategi dan tindakan yang dilakukan adalah strategi dalam pengambilan keputusan. Untuk mengambil satu keputusan yang tepat dan efektif tentu dibutuhkan kemampuan dalam  menetapkan paradigma dan prinsip-prinsip serta pengujian. Dalam hal ini seorang pemimpin adalah personal yang memiliki kemahiran tertentu dan sebagai bagian dari aset/modal terbesar yang dimiliki oleh sebuah komunitas. Dalam sebuah komunitas tentu memiliki aset/modal yang salah satunya adalah modal manusia dengan potensi dan kekuatan yang ada dalam diri masing-masing. Karena setiap manusia tentu memiliki potensi dan kekuatan yang berbeda-beda. Hal  ini terkait juga dengan materi pembelajaran berdiferensiasi,  bahwa setiap manusia dapat tumbuh dan berkembang dengan segala perbedaan. Jika  segala perbedaan itu dapat terjalin kolaborasi dan kerja bersama maka akan tercipta kekuatan besar untuk mencapai suatu keberhasilan.

Sebelum mempelajari materi pada modul 3.2 ini, saya cenderung melihat sebuah komunitas hanya pada kekurangan yang ada, masalah yang sedang terjadi, kendala yang sedang dihadapi. Segala sesuatu yang ada dalam komunitas tersebut, saya lihat dengan cara pandang yang negatif tanpa melihat adanya kekuatan/potensi yang dimiliki oleh komunitas tersebut. Tetapi setelah saya mempelajari dan memahami materi pada modul 3.2 ini, timbul pemikiran baru yang saya dapatkan terhadap cara pandang pada sebuah komunitas. Yaitu pengelolaan sumber daya sebagai aset/kekuatan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh sebuah komunitas. Saya meyakini bahwa pengelolaan sumber daya sebagai aset/kekuatan adalah merupakan sebuah konsep untuk menemukan dan mengenali hal-hal positif. Dengan  menggunakan potensi sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan atau pun potensi positif. Saya semakin menyadari bahwa kekuatan untuk membangun sebuah komunitas adalah terletak pada potensi yang dimiliki oleh setiap komponen yang dimiliki oleh komunitas tersebut. Dan cara pemanfaatan aset dan kekuatan itu secara maksimal tentunya terletak pada kemampuan dan kompetensi seorang pemimpin dalam mengambil satu tindakan keputusan yang tepat dan berdaya guna bagi seluruh bagian komunitas baik internal maupun eksternal.


Rabu, 16 Februari 2022

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri

 Koneksi Antarmateri 

Pengambilan Keputusan Sebagai pemimpin Pembelajaran

Oleh Evi Rahman Silalahi, S.Pd



Pengaruh Patrap Triloka Terhadap Pengambilan Keputusan 

Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan Filosopo Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan  sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil. Ki Hajar Dewantara memiliki pandangan bahwa seorang guru harus memberikan contoh praktik baik dan tauladan kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, guru sebagai pendidik harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka Ing Madyo Mangun Karsa dan pada akhirnya guru membantu keberhasilan murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri dengan baik. Guru berperan sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju keberhasilan dan kebahagiaan. Hal ini tentunya sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.

Pengaruh Nilai Diri Terhadap Prinsip Pengambilan Keputusan 

Guru sebagai pendidik tentunya memiliki nilai nilai yang tertanam dalam diri yang diyakini menjadi dasar dalam hidup. Setelah mengikuti program pendidikan guru penggerak, kita merefleksikan di mana nilai nilai yang kita miliki dan sudah ada sebelumnya semakin diperkuat. Nilai-nilai tersebut adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid yang keseluruhannya sangat berpengaruh bagi guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran. maka dari itu penting sekali bagi seorang guru untuk terus memupuk keseluruhan nilai-nilai positif dalam diri yang nantinya akan menjadi landasan setiap pengambilan keputusan.

Kaitan kegiatan terbimbing dengan  Terhadap Pengambilan Keputusan 

Pada Pendidikan Calon  Guru Penggerak, fasilitator membimbing kegiatan coaching yang sangat berkaitan erat dengan materi pengambilan keputusan. Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Pembahasan Studi Kasus dan Nilai Nilai Yang Dianut pendidik 

Pada pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika diperlukan kesadaran diri atau self awareness dan keterampilan sosial emosional untuk mengambil keputusan Ketika guru menghadapi suatu dilema etika atau bujukan moral yang menuntut dalam mengambil keputusan yang tepat tentunya harus mengikuti 3 prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan, di mana dasar dari keseluruhannya adalah nilai-nilai yang harus dimiliki.

Dampak Pengambilan keputusan Pada Lingkungan 

Pengambilan keputusan yang tepat, tentu akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Kondisi tersebut adalah kondisi yang kita inginkan. Maka untuk melakukan perubahan, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis. Dalam hal ini, kita menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Kesulitan Dalam Pengambilan keputusan

Kesulitan yang saya alami di lingkungan kerja saya dalam pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika antara lain dipengaruhi oleh perbedaan budaya, nilai-nilai dan prinsip hidup yang mendasari setiap individu. Dibutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang kita ambil karena tidak ada keputusan yang mengakomodasi seluruh kepentingan para pemangku kepentingan. Sehingga diperlukan kejelasan visi dan misi, budaya, dan nilai-nilai yang dianggap penting di sekolah, agar bisa menjadi acuan dalam pengambilan suatu keputusan.

Pengaruh Pengambilan Keputusan Dengan Pembelajaran Yang Memerdekakan Murid 

Merdeka belajar berarti siswa bebas untuk mencapai kodrat alamnya, mengembangkan potensi yang dimilikinya tanpa ada tekanan dari pihak manapunPengaruh pengambilan keputusan yang tepat dan efektif oleh diri kita sebagai pemimpin pembelajaran akan menciptakan lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman dan menyenangkan, Dalam hal ini kemerdekaan belajar murid adalah hal yang utama. Hal ini dapat diwujudkan dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial emosional dan menerapkan praktik coaching.

Pengambilan Keputusan dan Masa Depan Murid 

Guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Sebagai pemimpin pembelajaran apabila terampil/cakap dalam mengambil keputusan di kelas pembelajaran secara langsung akan menumbuhkan nilai-nilai positif dan karakter baik pada diri murid selanjutnya hal ini akan berkembang dalam diri murid ketika dihadapkan pada suatu dilema dalam kehidupannya.

Kesimpulan Akhir

Bahwa seluruh modul yang telah saya pelajari merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan untuk memerdekakan murid dalam belajar, Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa Pendidikan bertujuan menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya sendiri, sekolah maupun masyarakat. Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru, dalam melaksanakan proses Pendidikan, pendidik dalam hal ini guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.


Selasa, 30 November 2021

2.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pembelajaran Sosial dan Emosional

 

 Koneksi Antarmateri - pembelajaran Sosial dan Emosional


Pembelajaran sosial emosional adalah proses mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi sosial dan emosional sebagai modal anak dalamberinteraksi dengan dirinya, orang lain dan lingkungan sekitar.  Pembelajaran sosial dan emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif dari seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini kemungkinan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

 

Tujuan dari pembelajaran sosial emosional adalah 

1.      Memberikan pemahaman, penghayatan, dan kemampuan untuk mengelola emosi.

2.      Menetapkan dan mencapai tujuan positif.

3.      Merasakan dan menunjukkan emosi kepada orang lain.

4.      Membangun dan mempertahankan hubungan positif.

5.      Membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Ruang lingkup pembelajaran sosial dan emosional yaitu (1) Rutin  pada saat kondisi yang sudah ditentukan di luar waktu belajar akademik, misalnya pada saat kegiatan morning circle, (2) Terintegrasi dalam sentra pembelajaran misalnya kita melakukan refleksi setelah melakukan pembelajaran. (3) Protokol menjadi budaya atau aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah.

        Kaitan Pembelajaran sosial emosional dengan pembelajaran berdiferensiasi yaitu (1) Dengan kemampuan mengelola emosi maka pembelajaran berdiferensiasi akan terlaksana dengan baik. (2) Seorang guru yang memahami pembelajaran sosial emosional, akan mengambil teknik yang tepat dalam melakukan pembelajaran berdiferensiasi.(3) Dalam proses pembelajaran sering terjadi permasalahan dalam interaksi sosial murid maka dengan adanya teknik pembelajaran sosial emosional dapat membantu guru untuk mendapatkan solusi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 

Sosial emosional mempunyai lima kompetensi yaitu (1) Self-Awarareness (2)Self-Management, (3) Sosial Awarness, (4)Relationship Awareness (5)Responsible Decicion Making 

Pembelajaran sosial Emosional memiliki keterkaitan hubungan dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu setiap anak memiliki kecerdasan sesuai dengan kodratnya sendiri, pendidikan budi pekerti, Pendidikan yang diberikan berpihak pada murid

Pendidikan sosial Emotional juga memiliki keterkaitan hubungan dengan nilai dan peran guru penggerak yaitu mendesain dan melaksanakan pembelajaran yang menarik, kreatif, inovatif dan menyenangkan yang berpusat pada siswa

Untuk mewujudkan visi guru penggerak yang berpihak pada murid dalam mendukung pembelajaran yang berpihak pada anak maka perlu upaya mewujudkan keinganan dengan konsep inkuiri apresiatif bagja.

Penerapan pembelajaran sosial emosional di kelas dapat dilakukan dengan menintegrasikan ke dalam RPP atau Rencana Proses Pembelaajaran yaitu dengan mengidentifikasi perasaan, mengidentifikasi emosi dengan menggunakan Flash Cord Emosi, membuat kartu ucapan dan bermain peran.

Mindfullness dapat diterapkan dalam pembelajaran sosial emotional, mindfullness adalah menyadarkan saya untuk hadir sepenuhnya dan menyadari keadaan terkini serta memberi respon yang paling tepat dalam keadaan apapun, Mindfulness adalah salah satu jenis meditasi yang dapat melatih seseorang untuk fokus terhadap keadaan sekitar dan emosi yang dirasakan serta menerimanya secara terbuka. 

Reaksi dari pembelajaran sosial emotional yang dilakukan secra terus menerus oleh seluruh ekosistem sekolah dapat membentuk kompetensi sosial emosional yang dapat menumbuhkan kesadaran penuh dalam melakukan hal-hal baik sehingga dapat mewujudkan karakter pelajar berprofil pancasila.

 


Selasa, 19 Oktober 2021

sites

 kunjungi situs saya di https://sites.google.com/view/evirahman-766hi/menu


CANVA

 Yuk buat media pembelajaran menarik dengan canva

https://youtu.be/xFTZiIfcxvM

MEMBANGUN BUDAYA POSITIF DENGAN MEMBENTUK KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI KESEPAKATAN KELAS


1.4.a.10.2 Aksi Nyata - Budaya Positif 

 

UPAYA MEMBENTUK KARAKTER PESERTA DIDIK DENGAN KESEPAKATAN KELAS

A.        LATAR BELAKANG

Anggapan guru sebagai sosok ideal dan panutan di masyarakat sudah ada sejak dahulu, meskipun pada perkembangannya anggapan tersebut mulai pudar. Sejarah mencatat KI Hajar dewantara atau Soewardi Soeryaningrat sebagai bapak pendidikan nasioanla karena jasanya membangun pendidikan di Indonesia. Ki Hajar mendirikan National Onderwijs Institut Taman Siswa (Perguruan nasional Taman Siswa) pada 3 Juli 1922 atau lebih dikenal dengan sekolah Taman Siswa.

Ajaran yang terkenal dari Ki Hajar Dewantara adalah Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan, Ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk memprakarsa) dan Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan. Ajaran tersebut memberi falsafah bagi pendidikan di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari lambang departemen pendidikan nasional yang bertuliskan Tut Wuri Handayani.

Guru  sebagai pengajar berperan mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswanya. Jika dahulu guru menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, dengan perkembangan dan kemajuan teknologi guru sekarang bukan lagi pemberi materi melainkan menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Guru sebagai pendidik berperan untuk mentransfer nilai-nilai yang berlaku. Guru harus menjadi tokoh teladan yang memiliki standar kualitas pribadi positif tertentu, yang mencakup sabar, disiplin, tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan rendah hati. Guru pun harus mengetahui dan memahami nilai, norma moral, sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Oleh sebab itu, penting bagi guru untuk dapat mengembangkan budaya positif di sekolah agar dapat menumbuhkan motivasi diri  siswa untuk dapat menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan profil pelajar pancasila.

Budaya positif sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh seluruh ekositem sekolah baik kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Untuk dapat menerapkan budaya positif di sekolah, guru dapat memberikan program pembiasaan spontan maupun program pembiasaan rutin di sekolah seperti membiasakan mengucapkan salam, saling sapa, atau dengan penerapan program rutin sekolah seperti pengajian rutin, shalat dhuha, dan lain-lain.

Salah satu penerapan budaya positif di sekolah adalah penerapan kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas adalah kesepakatan yang diambil oleh seluruh warga kelas/sekolah dan dapat diterima oleh seluruh warga kelas/ sekolah. Kesepakatan kelas disetujui oleh kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran  dan disepakati oleh seluruh siswa.

B.        TUJUAN

Tujuan yang ingin dicapai pada siswa melalui tindakan kesepakatan kelas adalah

·         Menumbuhkan rasa tanggung jawab

·         Membentuk budaya disiplin positif 

C.        Tolak Ukur

Tolak Ukur dan bukti yang dapat dijadikan indikator bahwa tindakan ini berjalan dengan baik adalah

1.    Peserta didik memunculkan karakter tanggung jawab dalam dirinya.

2.    Terbentuk disiplin positif pada diri anak.

3.    Peserta didik mempunyai karakter saling menghargai

 

D.        Aksi Nyata Yang Dilakukan

Kegiatan aksi nyata yang dilakukan berupa penerapan budaya positif melalui kesepakatan kelas memuat beberapa langkah dalam pelaksanaannya. Keterlibatan setiap individu dalam sekolah maupun kelas dapat mewujudkan budaya positif di kelas maupun sekolah. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menyusun kesepakatan kelas adalah

1. Berbincang atau mendiskusikan dengan kepala sekolah dan rekan guru terkait pelaksanaan kesepakatan kelas sebagai langkah awal  dalam pembentukan budaya positif di kelas/sekolah

2. Membentuk kesepakatan kelas bersama siswa, dengan memperhatikan harapan dan pendapat seluruh siswa, dengan menayangkan video panduan kesepakatan kelas, Guru mengajak murid memikirkan dengan hati-hati tentang keinginannya tentang kelas impian, Guru meminta siswa menuliskan apa yang mereka pikirkan dan inginkan tentang kelasnya dalam belajar, siswa menuliskan tentang kelas impian mereka, siswa menempelkan hasil pemikirannya di papan tulis, Setelah semua berpartisipasi salah seorang siswa membacakan hal-hal yang telah ditulis tentang kelas impiannya, Guru mengajak siswa berdiskusi membahas impian-impian tentang kelas yang sudah ditulis, Guru dan siswa membaca hasil kesepakatan kelas yang telah disepakati bersama, kemudian saling menandatangani hasil kesepakatan tersebut sebagai tanda persetujuan. 

E.         Refleksi

1.    Keberhasilan

·  Kesepakatan kelas yang melibatkan siswa dapat membentuk karakter siswa lebih bertanggung jawab.

·        Membuat suasana kelas cukup kondusif

·        Guru dapat mengingatkan siswa apabila terdapat yang melanggar kesepakatan.

·        Siswa dapat saling mengingatkan sesama untuk menaati kesepakatan.

2.    Hasil yang kurang optimal terdapat siswa yang masih melanggar kesepakatan kelas 

F.         Rencana perbaikan

  Rencana perbaikan untuk pelaksanaan masa mendatang adalah berupaya semangat menjaga komitmen kesepakatan dari semua pihak terutama guru dan siswa agar dapat menjalankan kesepakatan kelas. Selalu menjalin komunikasi dan kolaborasi positif dengan seluruh pihak serta selalu saling  memotivasi agar upaya penerapan budaya disiplin positif dengan pembentukan karakter siswa melalui kesepakatan kelas dapat tercapai.

 G.        Dokumentasi Kegiatan

  

                        Berdiskusi dengan kepala sekolah mengenai kesepakatan  kelas

 

 

 Berdiskusi dengan kepala sekolah dan rekan sejawat terkait pelaksanaan kesepakatan kelas sebagai langkah awal pembentukan budaya positif.


 


 Membuat kesepakatan kelas dengan siswa di kelas

   

Poster Kesepakatan Kelas