Selasa, 30 November 2021

2.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pembelajaran Sosial dan Emosional

 

 Koneksi Antarmateri - pembelajaran Sosial dan Emosional


Pembelajaran sosial emosional adalah proses mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk memperoleh kompetensi sosial dan emosional sebagai modal anak dalamberinteraksi dengan dirinya, orang lain dan lingkungan sekitar.  Pembelajaran sosial dan emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif dari seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini kemungkinan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

 

Tujuan dari pembelajaran sosial emosional adalah 

1.      Memberikan pemahaman, penghayatan, dan kemampuan untuk mengelola emosi.

2.      Menetapkan dan mencapai tujuan positif.

3.      Merasakan dan menunjukkan emosi kepada orang lain.

4.      Membangun dan mempertahankan hubungan positif.

5.      Membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Ruang lingkup pembelajaran sosial dan emosional yaitu (1) Rutin  pada saat kondisi yang sudah ditentukan di luar waktu belajar akademik, misalnya pada saat kegiatan morning circle, (2) Terintegrasi dalam sentra pembelajaran misalnya kita melakukan refleksi setelah melakukan pembelajaran. (3) Protokol menjadi budaya atau aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah.

        Kaitan Pembelajaran sosial emosional dengan pembelajaran berdiferensiasi yaitu (1) Dengan kemampuan mengelola emosi maka pembelajaran berdiferensiasi akan terlaksana dengan baik. (2) Seorang guru yang memahami pembelajaran sosial emosional, akan mengambil teknik yang tepat dalam melakukan pembelajaran berdiferensiasi.(3) Dalam proses pembelajaran sering terjadi permasalahan dalam interaksi sosial murid maka dengan adanya teknik pembelajaran sosial emosional dapat membantu guru untuk mendapatkan solusi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 

Sosial emosional mempunyai lima kompetensi yaitu (1) Self-Awarareness (2)Self-Management, (3) Sosial Awarness, (4)Relationship Awareness (5)Responsible Decicion Making 

Pembelajaran sosial Emosional memiliki keterkaitan hubungan dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu setiap anak memiliki kecerdasan sesuai dengan kodratnya sendiri, pendidikan budi pekerti, Pendidikan yang diberikan berpihak pada murid

Pendidikan sosial Emotional juga memiliki keterkaitan hubungan dengan nilai dan peran guru penggerak yaitu mendesain dan melaksanakan pembelajaran yang menarik, kreatif, inovatif dan menyenangkan yang berpusat pada siswa

Untuk mewujudkan visi guru penggerak yang berpihak pada murid dalam mendukung pembelajaran yang berpihak pada anak maka perlu upaya mewujudkan keinganan dengan konsep inkuiri apresiatif bagja.

Penerapan pembelajaran sosial emosional di kelas dapat dilakukan dengan menintegrasikan ke dalam RPP atau Rencana Proses Pembelaajaran yaitu dengan mengidentifikasi perasaan, mengidentifikasi emosi dengan menggunakan Flash Cord Emosi, membuat kartu ucapan dan bermain peran.

Mindfullness dapat diterapkan dalam pembelajaran sosial emotional, mindfullness adalah menyadarkan saya untuk hadir sepenuhnya dan menyadari keadaan terkini serta memberi respon yang paling tepat dalam keadaan apapun, Mindfulness adalah salah satu jenis meditasi yang dapat melatih seseorang untuk fokus terhadap keadaan sekitar dan emosi yang dirasakan serta menerimanya secara terbuka. 

Reaksi dari pembelajaran sosial emotional yang dilakukan secra terus menerus oleh seluruh ekosistem sekolah dapat membentuk kompetensi sosial emosional yang dapat menumbuhkan kesadaran penuh dalam melakukan hal-hal baik sehingga dapat mewujudkan karakter pelajar berprofil pancasila.

 


Selasa, 19 Oktober 2021

sites

 kunjungi situs saya di https://sites.google.com/view/evirahman-766hi/menu


CANVA

 Yuk buat media pembelajaran menarik dengan canva

https://youtu.be/xFTZiIfcxvM

MEMBANGUN BUDAYA POSITIF DENGAN MEMBENTUK KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI KESEPAKATAN KELAS


1.4.a.10.2 Aksi Nyata - Budaya Positif 

 

UPAYA MEMBENTUK KARAKTER PESERTA DIDIK DENGAN KESEPAKATAN KELAS

A.        LATAR BELAKANG

Anggapan guru sebagai sosok ideal dan panutan di masyarakat sudah ada sejak dahulu, meskipun pada perkembangannya anggapan tersebut mulai pudar. Sejarah mencatat KI Hajar dewantara atau Soewardi Soeryaningrat sebagai bapak pendidikan nasioanla karena jasanya membangun pendidikan di Indonesia. Ki Hajar mendirikan National Onderwijs Institut Taman Siswa (Perguruan nasional Taman Siswa) pada 3 Juli 1922 atau lebih dikenal dengan sekolah Taman Siswa.

Ajaran yang terkenal dari Ki Hajar Dewantara adalah Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan, Ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk memprakarsa) dan Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan. Ajaran tersebut memberi falsafah bagi pendidikan di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari lambang departemen pendidikan nasional yang bertuliskan Tut Wuri Handayani.

Guru  sebagai pengajar berperan mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswanya. Jika dahulu guru menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, dengan perkembangan dan kemajuan teknologi guru sekarang bukan lagi pemberi materi melainkan menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Guru sebagai pendidik berperan untuk mentransfer nilai-nilai yang berlaku. Guru harus menjadi tokoh teladan yang memiliki standar kualitas pribadi positif tertentu, yang mencakup sabar, disiplin, tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan rendah hati. Guru pun harus mengetahui dan memahami nilai, norma moral, sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Oleh sebab itu, penting bagi guru untuk dapat mengembangkan budaya positif di sekolah agar dapat menumbuhkan motivasi diri  siswa untuk dapat menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan profil pelajar pancasila.

Budaya positif sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh seluruh ekositem sekolah baik kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Untuk dapat menerapkan budaya positif di sekolah, guru dapat memberikan program pembiasaan spontan maupun program pembiasaan rutin di sekolah seperti membiasakan mengucapkan salam, saling sapa, atau dengan penerapan program rutin sekolah seperti pengajian rutin, shalat dhuha, dan lain-lain.

Salah satu penerapan budaya positif di sekolah adalah penerapan kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas adalah kesepakatan yang diambil oleh seluruh warga kelas/sekolah dan dapat diterima oleh seluruh warga kelas/ sekolah. Kesepakatan kelas disetujui oleh kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran  dan disepakati oleh seluruh siswa.

B.        TUJUAN

Tujuan yang ingin dicapai pada siswa melalui tindakan kesepakatan kelas adalah

·         Menumbuhkan rasa tanggung jawab

·         Membentuk budaya disiplin positif 

C.        Tolak Ukur

Tolak Ukur dan bukti yang dapat dijadikan indikator bahwa tindakan ini berjalan dengan baik adalah

1.    Peserta didik memunculkan karakter tanggung jawab dalam dirinya.

2.    Terbentuk disiplin positif pada diri anak.

3.    Peserta didik mempunyai karakter saling menghargai

 

D.        Aksi Nyata Yang Dilakukan

Kegiatan aksi nyata yang dilakukan berupa penerapan budaya positif melalui kesepakatan kelas memuat beberapa langkah dalam pelaksanaannya. Keterlibatan setiap individu dalam sekolah maupun kelas dapat mewujudkan budaya positif di kelas maupun sekolah. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menyusun kesepakatan kelas adalah

1. Berbincang atau mendiskusikan dengan kepala sekolah dan rekan guru terkait pelaksanaan kesepakatan kelas sebagai langkah awal  dalam pembentukan budaya positif di kelas/sekolah

2. Membentuk kesepakatan kelas bersama siswa, dengan memperhatikan harapan dan pendapat seluruh siswa, dengan menayangkan video panduan kesepakatan kelas, Guru mengajak murid memikirkan dengan hati-hati tentang keinginannya tentang kelas impian, Guru meminta siswa menuliskan apa yang mereka pikirkan dan inginkan tentang kelasnya dalam belajar, siswa menuliskan tentang kelas impian mereka, siswa menempelkan hasil pemikirannya di papan tulis, Setelah semua berpartisipasi salah seorang siswa membacakan hal-hal yang telah ditulis tentang kelas impiannya, Guru mengajak siswa berdiskusi membahas impian-impian tentang kelas yang sudah ditulis, Guru dan siswa membaca hasil kesepakatan kelas yang telah disepakati bersama, kemudian saling menandatangani hasil kesepakatan tersebut sebagai tanda persetujuan. 

E.         Refleksi

1.    Keberhasilan

·  Kesepakatan kelas yang melibatkan siswa dapat membentuk karakter siswa lebih bertanggung jawab.

·        Membuat suasana kelas cukup kondusif

·        Guru dapat mengingatkan siswa apabila terdapat yang melanggar kesepakatan.

·        Siswa dapat saling mengingatkan sesama untuk menaati kesepakatan.

2.    Hasil yang kurang optimal terdapat siswa yang masih melanggar kesepakatan kelas 

F.         Rencana perbaikan

  Rencana perbaikan untuk pelaksanaan masa mendatang adalah berupaya semangat menjaga komitmen kesepakatan dari semua pihak terutama guru dan siswa agar dapat menjalankan kesepakatan kelas. Selalu menjalin komunikasi dan kolaborasi positif dengan seluruh pihak serta selalu saling  memotivasi agar upaya penerapan budaya disiplin positif dengan pembentukan karakter siswa melalui kesepakatan kelas dapat tercapai.

 G.        Dokumentasi Kegiatan

  

                        Berdiskusi dengan kepala sekolah mengenai kesepakatan  kelas

 

 

 Berdiskusi dengan kepala sekolah dan rekan sejawat terkait pelaksanaan kesepakatan kelas sebagai langkah awal pembentukan budaya positif.


 


 Membuat kesepakatan kelas dengan siswa di kelas

   

Poster Kesepakatan Kelas